Kisah Perjuangan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu


Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.
Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih :
Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.
Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alalfalaahi…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.
Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..
Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.
Disalin dari Biografi Ahlul Hadits, yang bersumber dari Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya
Artikel
www.KisahMuslim.com

RETRAINING TIME TO LAUGHING

Joe kecil: "Mama, apakah Tuhan menginap di rumah kita?"

Mama: "Tentu tidak, Nak, Tuhan itu tempatnya di Surga, Sayang..."

Joe kecil: "Tapi, ma..."


Mama: "Apalagi Joe?"

Joe kecil: "Kemarin sore Joe dengar suara papa di kamar pembantu katanya ngomong gini ''Oh Tuhan.. tubuh kamu bagus bangeett...''

Mama : "SIALAN !!Golok mana golok ?!?!"

Asiknya Membuat Kerajinan Tangan Dari Resin


Ingin membuat kerajinan tapi kita ga tau bagaimana cara membuatnya, pastilah akan sulit untuk kita mulai membuatnya. Walaupun cara membuatnya mudah sekali, tapi karena akan menggunakan dan berhubungan langsung dengan bahan-bahan kimia, alangkah baiknya kita terlebih dahulu mencari tahu dari berbagai media tentang sifat bahan kimia yang akan kita gunakan, agar kita tidak terkena dampak negatif dari bahan tersebut. Resin adalah senyawa polymer rantai karbon. Polymer berasal dari kata –poly (banyak) dan –mer (ikatan). Senyawa polymer rantai karbon dapat didefinisikan sebagai senyawa yang mempunyai banyak ikatan rantai karbon. Resin dijual dengan bentuk cair. Dan terdapat dua jenis resin,yaitu  resin butek (keruh) dan resin bening. Resin dan katalisnya akan menyebabkan iritasi jika terkena kulit, jadi jika saat membuat gantungan kunci dan kerajinan yang lainnya dari resin dan resin terkena kulit maka segeralah mencuci tangan kita menggunakan sabun hingga tangan kita tidak terasa lengket lagi. Resin juga memiliki bau yang sangat menyengat dan bisa menyebabkan pusing dan juga mual. Jadi jika kita membuat kerajinan tangan dari resin di dalam ruang yang tertutup dan dengan fentilasi yang tidak memadai (sangat sedikit), sebaiknya jika kita sudah merasa pusing dan mual karena mencium bau resin tersebut, hendaknya kita segera keluar ruangan tersebut untuk menghirup udara yang segar atau disaat kita membuatnya hendaknya kita menggunakan penutup hidung dan mulut atau masker agar tidak menyebabkan mual dan pusing saat membuat kerajinan dari bahan resin. 

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuatnya adalah resin itu sendiri banyak di jual di toko-toko kimia, dijual sudah dengan katalisnya (katalis adalah sebuah cairan yang berfungsi untuk membuat resin tersebut menjadi keras) kisaran harga resin di toko kimia adalah kurang lebih Rp.300.000 sudah dengan katalisnya, ada juga yang menjual dengan harga Rp.25.000 per liter resin dan katalisnya seharga Rp.4.600 per ukuran botol kecil mini. Bahan yang kedua adalah silikon rubber yaitu untuk membuat cetakannya, silikon juga banyak di jual di toko-toko kimia harga silikon rubber kurang lebih seekitar Rp. 300.000. Dan bahan yang terakhir adalah bentuk dari yang akan kita buat seperti replika pesawat, gantungan kunci, dan sebagainya. Bentuk ini bisa kita buat sendiri atau kita bisa meminta bantuan pada orang yang bisa membuatnya, bisa juga kita beli. Kita juga bisa meggunakan cetakan yang sudah jadi, seperti cetakan agar-agar yang terbuat dari plastik atau bisa juga menggunakan wadah bekas agar-agar dari jajanan anak-anak.
cara untuk membuat kerajinan tangan dari resin:
1. siapkan cetakan yang akan kita gunakan untuk mencetak resin,sebelum cetakan di gunakan,terlebih dahulu di olesi dengan minyak agar resin yang sudah kering mudah di lepas dari cetakan.
2. siapkan wadah seperti baskom,ember,dan sebagainya untuk mencampurkan resin dengan katalisnya
3. siapkan alat seperti sumpit,sendok,dan sebagainya untuk mengaduk resin dan katalisnya.
4. campurkan resin dan katalisnya kedalam wadah yang sudah di sediakan tadi.Aduk dengan alat yang sudah kita sediakan, aduklah dengan cepat hingga resin dan katalisnya benar-benar tercampur. Untuk mengetahui apakah resin dan katalisnya sudah benar-benar tercampur, kita bisa merasakannya, bila sudah bena-benar tercampur maka ketika kita aduk cairan campuran dari resin dan katalisnya tadi akan terasa lebih sukar di aduk atau sudah lebih lengket. Bila katalis terlalu banyak di campurkan pada resin, pada saat sudah kering resin akan menjadi retak-retak. Bila katalisnya terlalu sedikit di campurkan pada resin, resin akan sulit untuk mengering ( untuk tau takaran yang sesuai,kita bisa sering-sering melakukan percobaan). Takaran yang biasa di gunakan adalah 1 tetes katalis untuk 10 mili liter resin atau untuk perbandingan dalam satu cup bekas eskrim beri 3 sampai dengan 4 tetes katalis.
4. setelah resin dan katalis tercampur masukan kedalam cetakan yang sudah di olesi dengan minyak tadi dan tunggu hingga mengering.
5. setelah resin mengeringkeluarkan dari cetakan.
6. untuk finising beri warna dengan airbrus atau pewarna lain yang anda sukai.

Untuk pemberian hiasan, kita bisa memasukan hiasan yang kita sukai ke dalam resin, caranya kita masukan resin yang sudah di aduk dan tercampur dengan katalisnya tadi kedalam cetakan yang sudah di olesi minyak tadi, tapi masukan resin hanya setengah cetakan terlebih dahulu, kemudian tunggu sampai resin agak mengering, lalu masukan hiasan yag kita sukai. Selain hiasan seperti kertas warna yang kita potong kecil-kecil, daun dan bunga yang kita potong-potong, kita juga bisa menggunakan foto sebagai hiasan di dalamnya, bisa juga menggunakan uang recehan pecahan 100, 200, atau 500 perak. Kita juga bisa memasukan bubuk atau pasir warna ke dalam cetakan yang berisi setengah resin tadi. Setelah kita masukan hiasan yang kita gunakan,kemudian kita masukan lagi campuran resin dan katalis di atas hiasan yang sudah kita masukan ke dalam cetakan. Usahakan jangan sampai hiasan tersebut ikut mengapung di atas cairan campuran resin dan katalis yang baru kita masukan, tunggu hingga mengering. Jika membuat gantungan, sediakan juga sedotan plastik yang sudah di olesi minyak, kemudian taruh di dalam cetakan dengan posisi tegak lurus agar mudah di copot dan menghasilkan lubang yang bagus atau bisa juga langsung menaruh gantungannya di dalam campuran resin dan katalis. Proses pengeringan ini biasanya berlangung lama, tergantung pada campuran resin dan katalisnya dan suhu ruangan tersebut. Jadi kita harus bersabar menunggu resin tersebut kering. Setelah kering lepaskan resin dari cetakannya, untuk yang menggunakan sedotan untuk melubangi resin tersebut lepaskan juga sedotannya, kemudian cantelkan gantungan ke dalam lubang yang sudah di buat tadi. Jadilah sebuah gantungan yang indah. Selain membuat gantungan kunci, kitajuga bisa membuat hiasan untuk pajangan di rumah, pin, bisa di buat sebagai pengganti bingkai foto, bahkan ada juga yang menggunakannya untuk melapisi nomer di tempat peminjaman dan penitipan barang agar nomer tersebut tidak mudah rusak.Tentunya gantungan kunci dan barang-barang lain yang kita hasilkan bukan hanya untuk kita sendiri, tapi ini bisa kita jadikan sebagai ladang usaha yang cukup menjanjikan, selain bahan-bahannya yang mudah di dapat, harga bahan bakunya pun murah, serta cara membuatnya pun sangat mudah.

Jadi, kesimpulannya jangan pernah takut untuk melakukan percobaan seperti membuat kerajinan tangan dari resin tadi, karena walaupun kita gagal kita bisa melakukanya lagi, dan kegagalan yang kita alami itu bisa kita jadikan sebagai pelajaran dan untuk mengevaluasi karya yang akan kita buat,semakin banyak kita mencoba,semakin banyak ilmu dan pengetahuan yang akan kita dapatkan, dan semakin banyak kita gagal dalam percobaan, maka akan semakin banyak kekurangan pada karya kita yang bisa kita perbaiki lagi agar karya kita menjadi lebih baik lagi, seperti halnya pada saat membuat kerajinan tangan dari resin tadi, kita harus sering melakukan percobaan membuatnya agar kita tau takaran yang pas untuk perbandingan campuran dari resin dan katalisnya supaya kita bisa menghasilkan karya yang bagus dan tidak retak-retak ketika sudah kering karena terlalu banyak memasukan katalis pada saat proses pencampuran katalis dengan resin. Selain kita harus terus mencoba, kita juga harus tetap sabar dalam melakukan penelitian dan percobaan yang kita lakukan, seperti halnya dalam membuat kerajinan dari resin,kita harus sabar dalam tahap pembuatannya, terutama pada saat menunggu resin itu kering dan mengaduk campuran dari resin dan katalisnya. Jika kita tidak sabar maka hasilnya pun akan kurang memuaskan, seperti jika kita tidak sabar dalam proses pencampuran antara resin dan katalisnya, itu bisa menyebabkan campuran yang kita masukan ke dalam cetakan tadi akan retak dan hancur, begitu pula pada saat proses pengerasan. Jika kita tidak sabar menunggu campuran yang ada dalam cetakan kering, dan kita terus mengeceknya dengan cara menyentuh permukaan campuran dengan sumpit, sendok, dan alat yang lainnya, maka bentuk yang sudah tecetak pada saat kering akan berubah bentuk dan permukaannya menjadi tidak merata dan jelek, apalagi jika campuran yang ada dalam cetakan tersebut belum kering dan mengeras seluruhnya, tapi kita sudah melepaskan campuran tersebut dari cetakan, maka akan menjadi hancur berantakan hasil yang akan kita dapatkan.

Dan pada dasarnya penelitian itu sangat menyenangkan, karena dengan penelitian kita bisa meneliti apapun yang kita sukai dan kita juga bisa menghasilkan uang, karena sudah terbukti banyak sekali penelitian yang sudah menghasilkan karya yang sangat bermanfaat bagi manusia sehingga banyak diperjual belikan. Selain membuat kerajinan tangan dari resin, masih banyak lagi penelitian dan perobaan yang sangat bermanfaat, seperti penelitian, eksperimen, dan penemuan yang di hasilkan oleh  Alfred nobel, bahkan dalam penelitian dan ekperimen yang dia lakukan dia telah melakukan seribu kali lebih eksperimen dan banyak sekali kegagalannya, dan hanya 1 percobaan dia yang tidak gagal, dia bahkan meledakan lab di sekolahnya sehingga dia di keluarkan dari sekolahnya dan terpaksa belajar secara otodidak di rumahnya, dan dia juga pernah meledakkan lab ayahnya yang berakibat dia di marahi oleh ayahnya dan di larang melakukan dan melanjutkan eksperimennya. Namun ia terus melanjutkan penelitiannya tanpa mengenal lelah, meyerah dan tetap tekun dan sabar melanjutkan penelitiannya. Dan pada akhirnya dia pun berhasil menciptakan sebuah penemuan dari penelitian dan percobaannya yaitu sebuah dinamit yang dia peruntukan untuk meringankan pekerjaan para pekerja ditempat pertambangan, bahkan dia memiliki perusahaan dinamit hampir di seluruh dunia.

Jadi, jangan pernah takut gagal dalam melakukan percobaandanpenelitian,karena kegagalan itu merupakan jalan menuju keberhasilan kita,dan kegagalan itu dapat kita ambil hikmahnya,seperti sebuahpepath mengatakan “berakit rakit kehulu,berenang renang ketepian,bersakit sakit dahulu,bersenang senang kemudian.”

BUDAYA MELEK SAINS DAN RISET



Pada tanggal 10 Oktober 2012 di wisma proklamasi diadakan sebuah acara yaitu diskusi tentang budaya melek sains dan riset dengan pembicara pak tjia my on,ia adalah seorang guru besar di ITB bidang teknologi dan riset.
Isi dari materi yang ia sampaikan yaitu bahwa sebuah Negara itu akan maju karena kemajuan di bidang penelitian dan riset.Riset dan penelitian yang di maksud bukanlah penelitian dan riset yang hanya mengembangkan dan menggunakan pemahaman dan teori-teori yang sudah berkembang dan ada atau sudah ada penggagasnya,tetapi yang harus kita lakukan adalah melakukan riset dan penelitian yang bisa dan mampu menciptakan hal-hal dan penemuan baru yang bermanfaat bagi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu,pak tjia may on juga mengatakan bahwa penelitian dan riset yang dilakukan juga bisa mendatangkan keuntungan di bidang materi bagi penemu dan Negara tempat si penemu itu menghasilkan penemuannya dan Negara asal dari penemu tersebut.contohnya seperti Negara-negara maju semisal Negara jepang dan jerman karena kemajuan di bidang teknologinya.Dia juga mengatakan bahwa seharusnya mahasiswa itu bisa melaksanakan tridharma perguruan tinggi,karena sekarang kebanyakan para lulusan perguruan tinggi dan yang masuk perguruan tinggi itu hanya untuk mendapatkan gelar dan agarmudah mendapatkan pekerjaan,padahal,jika mengacu pada tridharma perguruan tinggi tadi seharusnya para lulusan tinggi itu buka mencari kerja,tapi untuk menciptakan lapangan pekerjaan,sesuan dengan point ke 3 pada tridharma perguruan tinggi tersebut.
Setelah pak tjia my on selesai menyampaikan materinya,kemudian di buka sesi pertanyaan.Pada sesi pertanyaan tersebut,ketika penanya ke-2 yaitu pak yo,membuat saya gerah untun menyanggah pendapatnya dan menjawab pertanyaannya.Tapi karena pada saat itu yang hadir pada diskusi itu adalah para lulusan perguruan tinggi,sedngkan saya hanya seorang mahasiswa baru,aya mengurungkan niat saya untuk menyanggahnya,pertanyaan dia adalah apakah suatu penelitian yang sumbernya diambil dari al-qur’an itu dapat dikatakan sebuah riset? karena itu tidak melalui proses pemikiran yang panjang dan bukan berasal dari pemikiran sendiri,dan karena agama dan riset ilmu pengetahuan itu tidak dapat di satukan dan kita harus memilih antara keduanya.Pak tjia my on menjawab bahwa tidak semua yang terjadi dan ada di dunia ini bisa di buktikan dengan ilmu pengetahuan,dan dlam ilmu pengetahuan jika ada penemuan baru maka akan muncul banyak pertanyaan yang tidak akan henti-hentinya pertanyaan itu terus berdatangan.Sedangkan untuk agama ia mengatakan bahwa semua sudah di ketahui dalam agama.Tapi pak yo itu belum puas dan terus bertanya kepada pak tjia my on.
Karena pertimbangan atas usia pak tjia my on yang sudah tua dan sudah terlihat letih,serta waktu sudah menunjukan pukul 21.30,maka pembawa acara pun menutup diskusi tersebut dan berjanji akan melanjutkan kembali diskusi tersebut di lain waktu.
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut